Research

PHINTAS Weekly Report 5 Maret 2018

Sejumlah bursa Asia terkoreksi di awal perdagangan Senin (5/3), meskipun indeks-indeks Wall Street berakhir positif di akhir pekan kemarin (2/3). Salah satu pemicunya adalah pelemahan nilai tukar mayoritas negara-negara Asia, ditengah spekulasi pengetatan kebijakan moneter the Fed. Kecuali Yen yang cenderung menguat dipicu rencana Bank of Japan (BoJ) untuk mengakhiri easy monetary policy (jika target inflasi tercapai di 2019). Nilai tukar Yen menguat sekitar 1.3% sepanjang pekan kemarin. Tekanan lainnya berasal dari rencana Pemerintah AS menerapkan tarif impor untuk steel dan aluminum sebesar 25% dan 10% (1/3).

 

Serupa dengan bursa-bursa regional, IHSG juga dibayangi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah. Rupiah mengawali pekan ini dari level Rp13,700 per USD, di atas asumsi nilai tukar dalam APBN 2018 yang sebesar Rp13,400 per USD. IHSG juga dibayangi oleh rencana penerapan tarif impor terhadap steel dan aluminum, mengingat keduanya termasuk dalam komoditas ekspor utama Indonesia. Dari dalam negeri, Investor menantikan data Keyakinan Konsumen (6/3), Cadangan Devisa (7/3) dan Penjualan Eceran (8/3) yang dijadwalkan rilis pekan ini. Perbaikan ketiganya dapat berdampak positif bagi nilai tukar dan terutama psikologis Investor.

 

Top